Sumber: Buku “Tiga Kunci Fundraising” oleh Abdul Ghofur (Direktur PPPA Daarul Qur’an).

Menurut Bahasa, Fundraising berarti penghimpunan dana atau penggalangan dana, sedangkan menurut istilah fundraising merupakan suatu upaya atau proses kegiatan dalam rangka menghimpun dana zakat, infaq, dan shodaqoh serta sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi dan perusahaan yang akan disalurkan dan didayagunakan untuk mustahik.

Menjadi fundraiser perlu menjiwai dan setulus hati menjalani tahap demi tahap. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai budaya, agama, sikap dan karakter adalah hal yang menjadi tantangan bagi seorang fundraiser.

Aktivitas fundraising bisa di analogikan seperti aktivitas memanah, ada tiga bagian penting yaitu busur, anak panah, dan pemanah. Dalam fundraising ketiga hal ini menjadi prinsip yang harus dipegang oleh seorang fundraiser. Busur merupakan pondasi yang harus kuat untuk memanah, dalam konteks fundraising adalah motivasi diri untuk mencintai profesi fundraiser.

Anak panah adalah peluru atau kemampuan fundraiser memahami lembaga dan program. Dengan pemahaman yang baik, program akan mudah untuk dikomunikasikan. Sedangkan panah, harus memiliki kepekaan terhadap para donatur dan penerima manfaat sehingga anak panah dapat melesat sesuai targer dan sasaran.

Dalam fundraising, ada tiga prinsip yang harus dipegang oleh seorang fundraiser:

  1. Mencintai Kegiatan Fundraising

Apa pun aktivitasnya akan terasa jauh lebih ringan dan mudah jika disukai, dicintai ataupun disenangi, karena mencintai merupakan kondisi yang membuat semuanya menjadi lebih indah, bermakna dan tentunya lebih ringan. Seorang fundraiser harus juga mencintai pekerjaan atau kegiatannya agar apa yang dilakukannya terasa lebih mudah dan ringan.

  1. Memahami Lembaga dan Program Lembaganya.

Kecintaan menjadi seorang fundraiser memunculkan rasa percaya diri untuk melaksanakan aktivitas fundraising. Namun ternyata itu saja belum cukup. Prinsip kedua yang digambarkan sebagai anak panah adalah harus kuat, tajam, dan mampu melesat jauh. Fundraiser harus memahami lembaga dan program yang diharapkan. Lembaga harus memiliki program yang kuat, tajam sesuai dengan sasaran, serta mampu menjadi masterpiece dan melesat jauh membuat pemberdayaan bagi penerima manfaatnya, bukan hanya program ala kadarnya saja.

Fundraiser tidak akan berhasil menyelesaikan tugasnya jika tidak memahami lembaganya. Oleh sebab itu, seluruh SDM yang ada di suatu lembaga harus diberikan orientasi terhadap lembaga dan program-programnya sehingga benar-benar memahami lembaga dan program yang dilakukan.

  1. Memiliki Kepekaan Terhadap Keinginan Donatur

Prinsip ketiga merupakan kompetensi dan keahlian yang harus dimiliki fundraiser. Kegagalan yang terjadi dari beberapa kasus fundraising hanya disebabkan oleh kekakuan fundraiser dalam menerjemahkan keinginan calon donator. Kemampuan menyederhankan maksud dan tujuan donator sangat dibutuhkan dalam presentasi program, selama bukan pada hal-hal yang prinsip.

Donator umumnya belum memahami program yang dijalankan, kecuali donator yang srring bekerja sama. Tak jarang mereka memiliki target tersendiri yang harus dipenuhi program, sehingga keinginan mereka untuk donasi segera dapat direalisasikan.

Kemampuan mendengarkan diperlukan agar apa yang diinginkan donator dapat dijembatani dengan jawaban yang mengarahkan kepada keinginannya. Namun tetaplah jujur dan professional dalam memberikan penjelasan karena nilai-nilai lembaga perlu dijaga dengan baik, walaupun anda ingin segera closing.

Memiliki kepekaan terhadap keinginan donator bukan berarti fundraiser mengikuti keinginan donator sepenuhnya. Negosiasi dan persuasif dapat dilakukan jika hal itu bertentangan dengan nilai, target, serta kebijakan lembaga. Seorang fundraiser harus memiliki bargaining position, tak ingin di atas dan juga tidak pantas di bawah.

Semakin peka seorang fundraiser terhadap calon donator, semakin dekat potensi closing. Tarik ulur negosiasi program dan jumlah dana sangat membutuhkan kepiawaian seorang fundraiser. Tidak merasa menjadi peminta-minta akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam bernegosiasi kepada donator.

Nah itu beberapa prinsip yang hareus dipunya seorang fundraiser. Sahabat Amil bisa komen pengalaman kalian ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *