Oleh: Nana Sudiana (Sekretaris Jendral Forum Zakat, Direktur IZI)

Sekolah Amil, siapa yang punya?

Yang punya, kita semua.

Lagu di atas, mungkin terkesan kekanak-kanakan. Lha memang iya, karena penggalan lagu tadi adalah lagu anak-anak. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Apa pula kaitannya dengan Sekolah Amil?.

Dinamika Gerakan Zakat

Bila kita sadari, dunia zakat pasca momentum reformasi jelas berbeda dengan era sebelumnya. Dunia yang selama ini adem-ayem tanpa gelombang seakan menjadi bergelora. Anak-anak muda mantan demonstran, yang pernah berdiri tegap ikut menuntut perubahan nasib bangsa di momentum reformasi kini meluber kemana-mana, tak terkecuali gerakan zakat. Zakat yang selama ini dikelola dengan gaya-gaya orang tua dan terkesan jadul, lalu seiring pengaruh gejolak anak-anak muda yang memasuki gerakan zakat dengan kesadaran tinggi, tiba-tiba berubah dahsyat. Ada begitu banyak cara komunikasi alternatif yang terus digagas anak-anak muda di gerakan ini.

Sejumlah celah kekurangan terus disempurnakan tanpa keluhan. Mereka saking semangatnya kadang tak kenal takut dengan berbagai macam aturan, baik di internal lembaga masing-masing atau aturan regulasi yang dikeluarkan negara. Makanya ketika ada aturan baru di dunia zakat yang dianggap membatasi gerakan zakat yang baru akan tumbuh, maka reaksi perlawanan tak terhindarkan. Mereka bilang, “kami pernah melawan rezim yang kuat dan berhasil menumbangkannya, kalau sekedar regulasi, mari kita lanjutkan perjuangan”.

Aneh memang, tapi inilah fenomena gerakan zakat Indonesia. Semangat menjadikan gerakan zakat sebagai medan baru perjuangan memperbaiki nasib bangsa makin hari makin terasa. Anak-anak muda ini datang dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda, namun jiwa mereka ternyata saling mendekat, menyebabkan demikian kuat kesadaran bersama untuk memajukan dunia zakat. Ini satu sisi menjadikan gerakan zakat seakan mendapat pasokan darah baru untuk bangkit menuntaskan urusan-urusan ketertinggalan umat, namun di sisi lain bila semangat ini tanpa kendali dan tanpa adanya kemampuan yang memadai, justru bisa menjadi berbahaya. Gerakan yang ada jadi keras dan cenderung bergerak tanpa arah yang jelas, bahkan mungkin malah akan saling bertabrakan antara sesama aktivis gerakan zakat. Untuk itulah butuh kesamaan dalam bergerak sehingga ada harmoni dalam setiap gelombang perubahan yang akan dilakukan. Tak cukup hanya ideologi, namun juga kesadaran baru akan sebuah tatanan yang rapi dan penuh soliditas.

Sekolah Amil…
Pembicaraan tentang Sekolah Amil, mungkin belum seheboh isu sertifikasi amil. Di mana isu tentang sertifikasi amil ini menjadi isu yang cukup hangat di tataran gerakan zakat. Ada persepsi yang cukup beragam dalam memandang hal ini. Beberapa orang mengkhawatirkan sertifikasi ini akan memberatkan amil. Ada pula yang lain yang mencemaskan bahwa sertifikasi amil adalah sebuah proyek bak “jeruk makan jeruk” yang ujung-ujungnya bermuara pada komersialisasi sertifikat amil.

Belum juga habis diskusi hangat tentang sertifikasi amil, tiba-tiba kini muncul wacana tentang Sekolah Amil. Hebatnya hal ini bukan lagi isu, namun sudah sampai pada tahap dilaunching di akhir Agustus ini di Jakarta.

Daripada menyimpan rasa penasaran, tulisan singkat ini berkehendak berbagi informasi mengenai sekolah amil yang belum lama dilaunching. Sebenarnya tentang Sekolah Amil sendiri sudah ada sejumlah tulisan di beberapa media yang berisi tentang Sekolah Amil, namun ternyata itu lebih banyak berupa training singkat atau pelatihan dengan titel “Sekolah Amil”.

Bila kita menengok definisi sekolah sendiri, versi KBBI Online kata “Sekolah” itu sendiri bermakna :1. Bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatannya) ; 2. Waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran ; 3. Usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan). Dari definisi tadi, benang merahnya definisi sekolah bermuara pada adanya proses belajar mengajar.

Nah mimpi besar Sekolah Amil ini nantinya akan menjadi trend gerakan zakat baru. Sebuah gerakan perubahan yang secara terstruktur menyamakan kemampuan dan kapasitas dalam bergerak menuntaskan agenda-agenda umat. Gerakan besar ini akan diawali dari hal sederhana terlebih dahulu berupa peningkatan kapasitas Amil dalam wujud proses belajar mengajar amil. Proses di dalamnya sendiri secara garis besar mengarah pada satu tujuan utama yang merupakan amanah Munas Forum Zakat pada beberapa kali musyawarah. Terakhir ketika Munas FOZ di Bandung pada tahun 2015, Munas kembali mengamanahkan bahwa ada pekerjaan rumah bagi FOZ sebagai satu-satunya asosiasi pengelola Amil Zakat di Indonesia untuk berperan secara maksimal dalam hal peningkatan kapasitas organisasi pengelola zakat sekaligus peningkatan Amil zakatnya sebagai tulang punggung gerakan zakat.

Misi meningkatkan organisasi pengelola  zakat dan Amilnya ini yang kemudian diterjemahkan secara teknis dalam wujud Sekolah Amil. Nantinya sekolah Amil ini akan berfokus pada menurunkan misi peningkatan kapasitas organisasi Amil plus amilnya. Dalam peningkatan kapasitas organisasi pengelola zakat, Sekolah Amil akan mengarah pada sejumlah upaya teknis untuk menjadikan organisasi pengelola zakat mampu bertambah kapasitasnya serta berkembang kemampuan teknisnya. Bila hal ini sudah mulai berkembang dengan baik dan pengkapasitasan ini bisa meluas ke jejaring FOZ di seluruh wilayah, maka tahap selanjutnya  Sekolah Amil akan mencoba mengadopsi model akreditasi bagi organisasi-organisasi pengelola zakat yang ada. Ini tak mudah memang, selain membutuhkan waktu yang tak sebentar, perlu juga dukungan dari seluruh stekholders dan jejaring gerakan zakat.

Selanjutnya, dalam konteks peningkatan Amil, Sekolah Amil ini akan menyiapkan sejumlah proses pengkapasitasan yang mengarah pada meningkatnya pengetahuan dan wawasan, skill serta attitude sebagai seorang Amil Zakat. Rangkaian proses ini dirancang dalam sejumlah paket-paket pelatihan baik yang sifatnya short term maupun long term. Proses ini dalam implementasinya tak bisa instan karena menyangkut perubahan kapasitas dan kualitas SDM Amil yang selama ini secara natural dilakukan masing-masing OPZ. Ini ibarat menegakan benang basah, karena selama ini Amil sudah terlanjur memiliki karakter dan muatan pendidikan sendiri-sendiri.

Sekolah Amil memang bukan jaminan dinamika gerakan zakat akan lebih baik, namun yakinlah bahwa ini adalah ijtihad Forum Zakat untuk memajukan gerakan zakat di Indonesia. Diperlukan kepercayaan dari komponen gerakan zakat di Indonesia agar Sekolah Amil bisa hidup dan berkembang. Siapapun selayaknya memiliki kesadaran yang sama bahwa ini merupakan buah cinta aktivis gerakan zakat Indonesia untuk memberikan warna kebaikan bagi dunia gerakan zakat Indonesia. Ini memang baru langkah awal untuk menjadikan gerakan zakat sebagai gerakan perubahan untuk memperbaiki bangsa. Yang dibutuhkan saat ini, bukan pertanyaan “Kenapa baru ada Sekolah Amil saat ini?” atau “Kenapa harus FOZ yang membuat Sekolah Amil?”. Pertanyaan lain yang juga muncul, “Sekolah Amil ini milik siapa?”. Wallahu’alam bishowwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *